My Little Angel was born…

June 11th, 2016

07.18 am…

My Little Angel was born… peacefully and lovely…

Di Surabaya, suatu malam sebelumnya pada tanggal 9 Juni 2016 saya, suami dan orang tua memutuskan untuk melakukan check up (lagi) ke Dokter Obgyn karena hari itu adalah satu hari tepat sebelum hari perkiraan lahir dan saya belum merasakan tanda-tanda kontraksi yang hebat seperti seharusnya walaupun saya telah melakukan ritual-ritual yang biasa dilakukan ibu-ibu yang akan melahirkan seperti banyak jalan kaki, sujud, dan tentunya yoga. Apa yang saya rasakan hanya kontraksi-kontraksi kecil yang memang cukup nyeri namun hanya beberapa detik saja, seringkali saya menghitung durasi kontraksi-kontraksi kecil itu hanya sekitar 40-50 detik saja. Pada check up rutin sebelumnya Dokter mengatakan bahwa masih terdapat toleransi 10 hari setelah hari perkiraan lahir apabila pada hari perkiraan lahir tersebut saya belum juga melahirkan si kecil lalu mengapa saya dan suami tetap berkeinginan kelahiran tersebut tepat di hari perkiraan lahir yaitu 11 Juni 2016? Karena tanpa kami sangka, puji syukur suami mendapatkan Surat Keputusan untuk promosi jabatan di pekerjaannya dan sayangnya suami harus berada di kota tujuan penempatan yang baru efektif per 13 Juni 2016 dimana kota tersebut sangat jauh dari keberadaan kami pada saat itu. Itulah mengapa kami berharap kelahiran tetap pada 11 Juni 2016, karena setidaknya suami dapat menjadi saksi hidup proses kelahiran sang buah hati tercinta. Kami bercerita tentang hal tersebut ke Dokter lalu beliau pun melakukan “cek dalam” (hanya cek dalam tanpa memberikan obat atau treatment apapun) dan hasilnya beliau mengatakan he’s on the way actually so be prepared. Dokter pun meminta kami pulang ke rumah terlebih dahulu dan beliau mengatakan bahwa tunggu apa yang akan terjadi saat larut malam nanti. Wow! Kami pun kaget heran dan penasaran tidak sabar menunggu apa yang akan terjadi, apakah benar si kecil akan segera lahir atau dia masih tenteram damai di dalam rahim saya.

June 10th, 2016

02.35 am…

Saya terbangun dari tidur dan merasakan hal aneh di tempat tidur, dan ternyata basah! Aneh karena saya tidak merasakan keinginan untuk buang air kecil sama sekali namun basah yang saya rasakan, saya pun langsung membangunkan suami tepat di sebelah saya dan dia mengatakan bahwa bisa jadi itu merupakan air ketuban. Wowww!!! kami berdua pun langsung heboh dan memberi kabar keempat orang tua kami yang sudah berada di rumah sejak 2 minggu yang lalu menanti cucunya lahir ke dunia. Pada saat itu adalah bulan Ramadhan sehingga kebetulan memang pada jam-jam tersebut telah mendekati waktu sahur dan sahur pun sudah tidak terpikir lagi oleh kami karena benar saja setelah saya cek ke kamar mandi keluarlah gumpalan darah dengan air yang cukup banyak, berarti benar itu merupakan air ketuban yang pecah. Waaaaaaaa kami semua pun heboh mempersiapkan segalanya untuk berangkat ke Rumah Sakit dini hari itu. Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, suami pun mengendarai mobil dengan sangat hati-hati namun berusaha tetap memperhatikan kondisi saya di sebelahnya padahal waktu itu saya tidak merasakan apapun hanya saja yang saya khawatirkan adalah air ketubannya jangan sampai keluar lagi sebelum kami sampai di Rumah Sakit.

Menjelang waktu shubuh, tiba lah kami berenam di Rumah Sakit dan saya langsung disambut dengan kursi roda diantar oleh perawat yang bertugas menuju kamar bersalin. Dua orang suster (bidan) langsung menangani saya, saya pun berganti pakaian dan dua suster melakukan pemeriksaan seperti yang biasa kita sebut “bukaan” dan ternyata baru bukaan satu alias belum siap untuk melahirkan. Dikarenakan ketuban telah pecah, sehingga saya pun harus terus berbaring diatas ranjang karena dikhawatirkan apabila saya duduk atau bahkan berdiri maka air ketuban akan keluar dan dikhawatirkan air ketuban di dalam rahim akan habis sehingga si kecil berisiko keracunan. Akhirnya pun saya dipindah ke kamar rawat inap karena kondisi belum memungkinkan untuk melakukan persalinan.

Detik demi detik, menit demi menit, Suster keluar masuk setiap tiga jam sekali demikian juga Dokter untuk melakukan “cek dalam” yang sangat menyakitkan bagi saya dan bukaan pun tidak kunjung bertambah. Sampai akhirnya pada kunjungan Dokter sore hari, Dokter memberikan saya sebuah tablet untuk diminum, saya lihat bahwa Dokter membagi satu tablet yang sangat kecil tersebut menjadi 3 bagian dan saya hanya diminta untuk minum 1/3 bagian dari tablet tersebut. Dua jam kemudian mulai terasa kontraksi yang menyakitkan, terasa nyeri di pinggang, lumbar dan perut yang sangat berbeda dibanding nyeri apapun yang pernah saya rasakan. Seperti biasa saya tetap menghitung durasi rasa nyeri tersebut sekitar 40-50 detik dan terjadi setiap 15 menit sekali sampai pada akhirnya 5 menit sekali selama 4 jam. Setiap kali rasa nyeri itu datang, keringat dingin pun keluar dan saya selalu berusaha mengatur nafas saya agar tetap relax walaupun harus dengan menutup mata menahan rasa nyeri. Pada saat-saat itu pun suami dengan setia menemani disamping ranjang dengan menggenggam erat tangan saya, membelai rambut dan memandang saya dengan sepenuh hatinya dan bahkan bercerita random apa saja yang membuat saya tersenyum dan mengabaikan rasa nyeri yang datang dan pergi. Terima kasih suamiku, kau lah pelipur laraku.

June 11th, 2016

01.30 am…

Semakin sering suster melakukan pengecekan, dan ternyata bukaan hanya bertambah satu dan Dokter pun memutuskan untuk melakukan seksio cesarea (SC) alias operasi sesar tentunya setelah hasil diskusi dengan suami, orang tua serta kakak saya yang selalu keep in touch walaupun berada di Jakarta yang sudah gusar khawatir dengan keadaan saya yang tak kunjung melakukan persalinan mengingat air ketuban telah pecah hampir 24 jam sebelumnya. Akhirnya pun tepat pukul 04.00 dini hari saya diharuskan puasa dan hanya boleh minum air putih saja sampai dengan pukul 07.00 pagi operasi sesar dijadwalkan.

06.00 am…

suster datang ke kamar membersihkan badan saya dan memindah saya ke dalam ranjang transfer dan saya pun dipindah ke ruang persiapan operasi. Suster memakaikan baju hijau dan penutup kepala untuk saya, dan entah apa lagi yang saya tahu waktu itu begitu menegangkan namun juga sebenarnya menyenangkan karena kami tidak sabar untuk menyambut masa-masa yang baru. Masuklah saya ke Ruang Operasi tanpa suami karena suami boleh masuk hanya ketika proses persiapan di dalam Ruang Operasi telah selesai. Ruang operasi terasa sangat sangat sangat dingin, terang dan peralatan serba stainless steel (or whatever) mengelilingi saya, lampu operasi menyala tepat diatas ranjang layaknya di film-film, dan peralatan-peralatan lain seperti pasien monitor, infusion pump dan lain-lain yang saya tidak tahu namanya. Sepenglihatan saya terdapat empat Suster serta dua Dokter berpakaian serba hijau rapat dengan penutup kepala dan maskernya mengelilingi saya dan mereka sibuk masing-masing mempersiapkan segala sesuatunya. Seorang Suster memasangkan selang oksigen, pendeteksi detak jantung di tangan kanan saya dan infus di tangan kiri saya, lalu seorang Dokter Anestesi meminta saya untuk berbaring miring menghadap kiri dan memposisikan badan saya membungkuk seperti udang untuk menyuntikkan anestesi lokal di daerah dekat sumsum tulang belakang saya. Saya merasa sangat takut saat penyuntikan anestesi ini karena cara dan titik penyuntikan yang tidak seperti biasanya, namun bagaimanapun juga itu adalah step awal yang harus dilaksanakan.

07.13 am…

Tibalah saatnya proses operasi dimulai. Suami pun masuk ke dalam ruangan, dan saya telah terbaring siap dilakukan tindakan operasi. Kedua kaki terasa sangat berat karena efek dari anestesi, rasanya ingin sekali mengangkat kedua kaki saya namun tidak bisa dan hal ini membuat saya merasa lebih takut lagi. Saya mengerti bahwa suami saya bukan tipe orang yang mampu melihat peristiwa ini secara langsung karena dia adalah orang yang sangat lembut hatinya dan tentunya akan merasa tidak tega melihat peristiwa ini. Namun dengan semangatnya demi mengabadikan momen abadi ini maka dengan meneguhkan hati dia bangkit dari kursi pendamping sebelah atas ranjang operasi saya dan berdiri merekam proses operasi sesar dari awal sampai akhir. Saya meyakinkannya bahwa saya akan baik-baik saja dan momen ini adalah momen pertama kali yang kami alami sehingga suami pun memutuskan untuk mengabadikannya walaupun hanya dengan kamera ponsel.

tik tok tik tok… para Dokter dan Suster pun terdengar sangat santai sambil mengajak mengobrol, hal ini membuat saya merasa lebih relax sehingga proses persalinan berjalan dengan lancar.

5 menit kemudian,

tepat 07.18 am…

ALHAMDULILLAH…terdengar suara tangisan sangat kencang dari seorang malaikat kecil saat pertama kalinya ia keluar dari hangatnya rahim bundanya, merasakan udara dingin yang menimpa tubuhnya dan menghirup udara segar di dunia. Entah apa yang kami rasakan, tangis bahagia tak terasa kami teteskan. Bahagia, sedih, gundah, khawatir dan segala macam rasa tidak dapat kami deskripsikan lagi karena momen indah ini. Menyambut kelahiran sang buah hati, si malaikat kecil dengan tubuhnya yang lengkap sempurna, kulit yang putih bersih nan bercahaya, dan tangisnya yang sungguh menggetarkan jiwa kami.

IMG_4507

“Tumbuhlah dengan sehat dan bahagia anakku, GIBRAN…

Dunia ini indah, jadilah muslim dengan akhlak mulia yang takut hanya dengan Tuhanmu Allah SWT, seorang muslim pembela kebenaran dan menjadi pelipur lara bagi orang-orang di sekelilingmu nak…

Jadilah seseorang yang hanya dengan menatapmu saja rasa syukur tak terhenti terucap…

Jadilah seseorang yang menjadi penolong bagi kami orang tuamu, keluargamu, kerabatmu dan sahabatmu di hari perhitungan kelak…

Kami mencintaimu…

-Ayah & Bunda-“

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s